Ruang Diskusi Menyenangkan Bersama Kadis Dukcapil DKI Jakarta Menyibak Masa Depan Pelayanan di 2045

Selasa pagi (20/1/2026) itu, aula lantai 4 kantor Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) DKI Jakarta tak sepenuhnya dipenuhi formalitas birokrasi. Aroma kopi menyatu dengan alunan lagu Zona Nyaman dari Fourtwnty, menciptakan suasana yang hangat—jauh dari kesan kaku.

Kegiatan bertajuk Coffee Morning tersebut menjadi ruang temu lintas jabatan. Kepala Dinas, jajaran sekretariat, para kepala bidang Unit Pelaksana Teknis (UPT), kepala suku dinas, kepala subbagian, kepala seksi, ketua subkelompok, hingga seluruh ASN dan PPPK yang bertugas di lingkungan Dukcapil DKI Jakarta duduk dalam satu lingkar diskusi, terbuka, dan reflektif.

“Kerja sama serta keberanian meninggalkan zona nyaman adalah bekal agar organisasi ini terus bertumbuh,” ujar Kepala Dinas Dukcapil DKI Jakarta, Denny Wahyu Haryanto, membuka diskusi. Kalimat itu seolah menjadi benang merah pagi itu—sejalan dengan lagu yang mengalun pelan sebelumnya.

Bagi Denny Wahyu, perubahan bukan sekadar tuntutan zaman, melainkan pilihan sadar untuk melangkah maju. Ia menegaskan bahwa inovasi adalah kunci agar organisasi tidak hanya bertahan, tetapi juga relevan.

Coffee Morning kali ini menghadirkan sesuatu yang berbeda. Dalam pemaparannya, Denny Wahyu mengajak seluruh pegawai melampaui ruang dan waktu. Ia memposisikan diri sebagai “penjelajah waktu” yang melompat ke tahun 2045—saat Jakarta genap berusia satu abad.

Di masa depan itu, Denny Wahyu menggambarkan Dukcapil DKI Jakarta sebagai organisasi yang telah bertransformasi menjadi Agile Organization. Data kependudukan tidak lagi sekadar arsip administratif, melainkan aset layanan yang kritikal. Setiap pegawai bekerja melalui platform digital yang terintegrasi, menjadikan Dukcapil pelopor pendekatan Whole of Government di sektor administrasi kependudukan.

“Para pegawai menjalankan prosedur kerjanya melalui platform digital yang terintegrasi sehingga menjadi pelopor Whole of Government di sektor adminduk dan menepis kekhawatiran warga kota akan isu Surveillance State (negara pengawas) di tahun 2025,” tutur Denny Wahyu dalam ruang diskusi yang hening namun penuh perhatian.

Lebih jauh, ia menempatkan Dukcapil sebagai pintu gerbang inklusivitas. Dalam visinya, tak ada lagi warga Jakarta yang tercecer dari sistem perlindungan sosial. Transformasi layanan Dukcapil bukan semata urusan dokumen, melainkan fondasi keadilan sosial.

“Tidak lagi ada warga Jakarta yang tertinggal dalam jaring pengaman sosial. Transformasi pelayanan Dukcapil bukan hanya sekadar administrasi, namun menjadi jantung social protection,” ujarnya.

Ketika lagu berhenti dan diskusi berlanjut, secangkir kopi di tangan para peserta terasa menjadi simbol sederhana: perubahan besar kerap berawal dari perubahan kecil yang dilakukan secara berkesinambungan. Denny Wahyu berpesan kepada jajarannya, “Inovasi adalah kunci, semangat adalah tekad, kebersamaan adalah kekuatan dan jangan lupa bahagia.” Di aula lantai 4 itu, Dukcapil DKI Jakarta tidak hanya membicarakan hari ini, tetapi juga meneguhkan langkah menuju Jakarta 2045—kota yang inklusif, adaptif, dan manusiawi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *